Rinduku Nur Fauzah

Selasa, 08 Maret 2016

berlalu adalah sesuatu yang kita sebut waktu
menghilang entah yang tak pernah kita sadari

disampingku, secangkir kopi mulai habis
puas mendengar sebuah lagu dari film yang aku tak tahu judulnya
sesekali, melodi ini kunyanyikan bersama ingatan
senyum singkatmu kujadikan lirik sederhana tentang apa dan mengapa yang berulang kali gagal kusebutkan

Nur Fauzah
ketika merindu hanyalah sebuah dosa, aku hanya bisa melihatmu lewat doa
bermain dengan apa yang aku sebut harapan, hingga yang tersisa hanyalah samar-samar wajahmu

aku ingin bermimpi
mengajakmu menikmati indahnya fatamorgana
dan saat terbangun nanti, aku akan sadar, bahwa sesuatu yang ada hanyalah ketiadaan yang kita ciptakan

suaramu masih kujadikan kenangan pertama
melukis harapan untuk cinta yang sesaat

mungkin kau takkan mengerti
mengapa aku menuliskanmu dalam tulisan ini
sebab, ketika semua telah hilang
menulis adalah cara hati menggambarkan sesuatu yang spesial dalam memori

perlahan, tulisan ini akan memudar atau bahkan dilupakan
sebaiknya begitu
dan apabila bertemu nanti
aku ingin melihat senyummu
dan aku akan berkata "Terima Kasih Allah, telah menjadikannya bahagia"

Untukmu...

puisi selanjutnya klik disini

Kusebut Itu Langit Merah Jingga

Perlahan, semua akan berubah
Menghilang dengan entah yang tak pasti
menjadi serbuk rindu untuk masa yang kita titipkan
Kemudian musnah

Hati akan sadar, sesuatu yang tertulis pada halaman depan akan sia-sia
ketika dongeng yang kau ceritakan pada lembar terakhir lepas oleh apa yang disebut perpisahan.

Aku tak pernah menyangkal cerita ini
langit merah jingga yang membawamu pergi bersama gelap 
kemudian tinggalkan bintang yang aku sebut rindu.

17 oktober, maaf yang tak terucap
Mengenangmu adalah "DOSA"


29 hari (februari kini)

Senin, 29 Februari 2016

Pertemuan yang singkat, usai oleh gelap yang menamakan dirinya malam
percakapan-percakapan yang terhenti oleh kebisuan, lidah yang membeku

di jembatan itu, kulihat sepasang mata untuk yang terakhir kalinya
katamu baiklah, aku yang pergi atau kau yang pergi
atau begini saja,  kita sama-sama pergi

sejak malam itu, rindu sekali lagi membunuhku
senja, hujan, malam, mana yang kau pilih untuk cerita ini?

februari kini, 29 hari telah berlalu

Hanya Untuk Dikenang

Minggu, 14 Februari 2016


Entah kapan aku harus berhenti menulis cerita tentangmu
Mungkin akan hilang pada kelupaan yang menjadikannya tiada

Cerita ini hanya bisa kulukiskan dalam bentuk puisi
Bahwa kau adalah bahagia yang lahir dari cinta
Seikat senyum kau tawarkan padaku sebagai hiasan untuk dikenang
Melupakan bukanlah pilihan.

Aku tak memilih lupa untuk mengingatmu
Karena dengan begitu, kau akan tetap menjadi cintaku

Kau tau, hujan slalu berawal gerimis
Namun adakalanya tak berakhir pelangi
Mungkin pepatah itu untuk kisah kita
Kau, aku, dan kenangan

Diujung jalan sana
Mungkin kita akan bertemu
Entah kapan, atau nanti
Sebelum itu terjadi
Berbahagialah.

Oleh: Milhan Torhan Wael
Malang, 15 Februari 2016

Diberdayakan oleh Blogger.

tentang DUNIAKU

Pulanglah,
sekali lagi

bukannya kita tak jauh-jauh soal rindu?
aku menunggumu di sini
dengan merah jingganya langit.

Cari Blog Ini